Proposal penelitian kuantitatif

CONTOH PROPOSAL KUANTITATIF

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar belakang

Hedonisme adalah pandangan yang menganggap bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Banyak dari kita terutama mahasiswa sosio-humaniora (mahasiswa fakultas ekonomi, sospol, hukum, ilmu budaya, psikologi) yang mungkin secara tidak sadar telah terperangkap dalam jurang hedonisme yang sangat dalam.

Semakin hari gaya hidup hedonisme masyarakat semakin menjadi-jadi. Mulai dari kalangan muda sampai yang dewasa. Hal ini disebabkan oleh semakin majunya sistem teknologi dan komunikasi yang mengakibatkan perubahan sosial semakin menggubrak.  Ini menjadi masalah yang cukup serius untuk ditelaah lebih dalam lagi. Utamanya ini sangatlah mempengaruhi kondisi pendidikan di negara kita.

Sebagai fenomena dan gaya hidup, hedonisme sudah tercermin dari prilaku mereka sehari-hari. Mayoritas pelajar / mahasiswa berlomba dan bermimpi untuk bisa hidup mewah. Berfoya-foya dan nongkrong di kafe, mall dan plaza. Ini merupakan bagian dari agenda hidup mereka. Barangkali inilah efek negatif dari menjamurnya mall, plaza dan hypermarket lainnya. Mengaku sebagai orang timur yang beragama, namun mereka tidak risih bermesraan di depan publik . ini juga adalah gaya hidup mereka.

Hal lain yang membuat hati kita gundah- menyimak berita pada televisi dan Koran-koran bahwa sudah cukup banyak pemuda-pemudi kita yang menganut paham hidup free sex dan tidak peduli lagi pada orang-orang sekitar. Hamil di luar nikah bukan jadi ‘aib lagi, malah sudah dianggap model karena para-para model mereka juga banyak yang begitu seperti digossipkan oleh media elektronik (TV) dan media cetak (majalah, Koran dan tabloid).

Gaya hidup hedonismee tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonisme. Orang tua dan kaum kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Mereka (atau kita) lalai untuk mewarisi anak dan keponakan dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Kita tidak banyak mencikaraui (campurtangan) anak tentang hal spiritual. Orang tua jarang yang ambil pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum, apakah lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan tidak sedih melihat remaja mereka kalau tidak mengerti dengan nilai puasa.

Sampai sekarang orang-orang, termasuk pelajar / mahasiswa/ generasi muda, memandang segala sesuatu yang berasal dari Barat sebagai hal yang hebat. Mereka harus mengidolakan lagu dan musisi dari barat. Poster-poster figur dari Barat, artis dan atlit, patut ditempel di kamar belajar. Kemudian tiap saat mengupdate atau mengikuti perkembangan beritanya. Demikianlah pelajar / mahasiswa dari dalam kamarnya menyerap gaya hedonisme dari info-info tentang figur-fugur idola yang menempel di dinding kamarnya dibandingkan figur-figur intelektual, pahlawan, pendidik dan tokoh spiritual lainnya.

Faktor bacaan dan tontonan memang dapat mencuci otak pelajar / mahasiswa untuk menjadi orang yang memegang prinsip hedonisme. Adalah kebiasaan pelajar / mahasiswa kalau pulang sekolah / kampus pergi dulu ke tempat keramaian, pasar, paling kurang mampir di kios penjualan majalah dan tabloid.

Pengaruh tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan iklan) juga mengundang pelajar / mahasiswa untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan. hamil di luar nikah dan bermesraan di muka publik sudah tidak apa-apa lagi, cobalah dan lakukanlah ! seolah-olah beginilah ajakan misi televisi dan majalah yang tidak banyak mendidik, kecuali hanya banyak menghibur.

Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezki.

Atas dasar itu semualah sehingga penulis akan meneliti lebih lanjut lagi mengenai “Pengaruh Gaya Hidup Hedonisme Terhadap Tingkat Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009”.

B.     Rumusan Masalah

              Berdasarkan latar belakang di atas, maka beberapa permasalahan penting yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah :

1.      Adakah pengaruh gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009 ?

2.      Bagaimanakah pengaruh gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009 ?

3.      Seberapa besarkah pengaruh gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009 ?

C.     Tujuan

              Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini, sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui Adakah pengaruh gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009.

2.      Untuk mengetahui bagaimana pengaruh gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009.

3.      Untuk mengetahui seberapa besarkah pengaruh gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009.

D.    Manfaat

         Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :

a.       Manfaat praktis

1.      Hasil penelitian ini dapat memberikan suatu sumbangan dan informasi terhadap mahasiswa mengenai  pengaruh gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa, Agar mereka dapat berusaha dalam meningkatkan prestasinya lebih baik lagi.

2.      Dapat membantu peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh gaya hidup hedonisme, agar penelitian yang dilakukannya lebih baik lagi.

3.      Membantu mahasiswa yang lain untuk selanjutnya meyusun skripsi penelitian.

b.      Manfaat teoritis

1.      Sebagai bahan ajuan bagi para peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji lebih dalam lagi atau sebagai bahan lanjutan penelitian kuantitatif. Juga dapat dijadikan sebagai bahan untuk lebih menambah ilmu pengetahuan mengenai metode penelitian .

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.    KAJIAN PUSTAKA

         Hedon (diikuti dengan -isme; Hedonisme) berasal dari bahasa Yunani: hēdonē, yang berarti kesenangan (pleasure). Hedonisme secara umum bisa menyimpulkan bahwa “kesenangan adalah kebaikan tertinggi” atau di dalam perumusan lain “apapun yang membawa kesenangan adalah benar.” Lebih jauh lagi, Hedonisme bisa didefinisikan sebagai sebuah doktrin yang berpegang pada anggapan bahwasanya kebiasaan manusia itu dimotivasi oleh hasrat akan kesenangan dan terhindar dari penderitaan.

         Dalam kamus Collins Gem (1993) dinyatakan bahwa hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Atau hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata, (Echols, 2003). Hal ini senada dengan Kamus Dewan yang mendefinisikan hedonisme sebagai pegangan atau pandangan hidup yang mementingkan kesenangan hidup’. Secara umumnya, hedonisme adalah ‘pendekatan sosial yang menjadikan hiburan sebagai satu cara hidup’.

Seorang ulama terkemuka timur tengah Ali Syariati, ia pernah berkata bahwa tantangan terbesar bagi remaja muslim saat ini adalah budaya hedonisme (kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup) yang seolah sudah mengurat nadi. Budaya yang bertentangan dengan ajaran islam ini digemari dan dijadikan sebagai gaya hidup (life style) kawula muda masa kini, kaya atau miskin, ningrat atau jelata, sarjana atau kaum proletar, di desa ataupun di kota seolah sepakat menjadikan hedonisme yang sejatinya kebiasaan hidup orang barat ini sebagai “tauladan” dalam pergaulannya.

            Tujuan pendidikan Negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (pembukaan UUD 1945, alinea 4). Tujuannya tentu bukan untuk menciptakan bangsa yang hedonisme, tetapi bangsa yang punya spiritual, punya emosional quotient- peduli pada sesama dan tidak selfish atau mengutamakan diri sendiri. Gaya hidup hedonisme sama sekali tidak sesuai dengan tujuan pendidikan bangsa kita.

B.     Kerangka pikir

Gaya hidup didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia di sekitarnya (pendapat) . Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang .

Sedang hedonisme merupakan cara pandang hidup yang menganggap bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Atau hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata, hidup berfoya-foya.

Salah satu yang berpengaruh dalam tingkat prestasi yang diperoleh oleh mahasiswa yakni cara mereka menjalani hidup, (menghabiskan waktu, apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya, dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia di sekitarnya. Gaya hidup yang mahasiswa gunakan stiap harinya akan berakibat pada tingkat prestasi yang akan diperoleh.

Nah, dalam penelitian yang akan dilakukan, penulis mencoba meneliti adakah hubungan antara gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa. Untuk menjawab teka-teki ini, diperlukan suatu pengamatan yang dalam terhadap masalah tersebut.

Untuk memperjelas kedua variabel tersebut di bawah ini digambarkan kerangka berpikir sebagai berikut :

Gaya hidup hedonisme       –>>     tingkat prestasi belajar                        

(x)                                   (y)                                    

 

 

 

 

E.     Hipotesis

Hipotesa berasal dari kata hypo yang berarti dibawah dan thesa berarti kebenaran ( Arikunto, 1998 : 68 ). Hipotesa akan ditolak jika datanya palsu dan penolakan dan penerimaan hipotesa dengan begitu sangat tergantung pada fakta-fakta yang dikumpulkan. ( Sutrisno Hadi,2000:63 ).

Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Berdasarkan berbagai macam teori tentang hipotesis, maka hipotesis yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah :

1.      Hipotesis Alternatif ( H­­a ) / (H1­­)

Ada pengaruh antara gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009.

2.      Hipotesis Nol (Ho)

Tidak ada pengaruh antara gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009.

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.    Desain penelitian

Pelitian ini ingin mengkaji gaya hidup hedonisme terhadap tingkat prestasi belajar mahasiswa jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Angkatan 2009 dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan noneksprimen yang berarti peneliti mengakaji fakta  – fakta yang terjadi.

Dengan demikian pada saat penelitian dilakukan, para responden memiliki penghayatan persepsi pengalaman dan perasaan serta penilaian tertentu yang merefleksikan persepsi mereka terhadap semua aspek yang dapat mempengaruhi tingkat prestasi belajar mahasiswa.

B.     Populasi dan Sampel

1.      Populasi

Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun mengukur, kualitatif maupun kuantitatif, daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas. (Sudjana,1992:161).

 Sedangkan menurut Arikunto (1998:115) menyatakan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Jadi populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang berupa data kuantitatif maupun kualitatif dari hasil mengukur dan menghitung.

Sehingga populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa sosiologi fakultas ilmu sosial universitas negeri makasssar angkatan 2009. Sedangkan jumlah dari semua mahasiswa yang ada pada jurusan sosiologi FIS UNM angkatan 2009 adalah  108 orang.

2.      Sampel

Melihat jumlah mahasiswa sosiologi fakultas ilmu sosial Universitas negeri makassar Angkatan 2009 yang tidak terhitung banyak yakni hanya 108 orang, maka penulis akan mengambil sampel sebesar 50 % dari seluruh populasi. Jadi sampel penelitian ditotalkan berjumlah 54 responden.

 

 

 

C.     Teknik Pengumpulan Data

1.      Angket / Kuesioner

Adalah metode yang memberikan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang hal-hal yang akan dijadikan objek penelitian. Di dalam penelitian ini akan menggunakan kuesioner tertutup yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih. Angket yang dipergunakan adalah tipe pilihan untuk memudahkan bagi responden dalam memberikan jawaban. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner pilihan ganda dimana setiap item soal disediakan 4 jawaban.

2.      Observasi

Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara pemusatan perhatian secara teliti terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra ( pengamatan langsung).  (Suharsimi, 2002 : 133).

3.      Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk mengolah hasil penelitian guna memperoleh kesimpulan. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah Analisis Statistik Deskriptif Persentase.

Analisis Deskriptif Persentase adalah metode yang digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel bebas yaitu cara pemahaman dalam proses belajar mengajar dan fasilitas belajar. Dalam analisis deskriptif ini, perhitungan yang digunakan untuk mengetahui tingkat persentase skor jawaban dari masing-masing mahasiswa yang diambil sebagai sampel ditulis dengan rumus sebagai berikut:

%  = n / N x  100 %

 

Dimana :

n = Jumlah skor jawaban responden

N = Jumlah skor jawaban ideal

% = Tingkat persentase

(Mohammad Ali, 1987:184)

 

Untuk menentukan kategori atau jenis deskriptif persentase yang diperoleh dari masing-masing indikator dalam variabel, dari perhitungan deskriptif persentase kemudian ditafsirkan ke dalam kalimat. Cara menentukan tingkat kriteria adalah sebagai berikut :

a.       Menentukan angka persentase tertinggi

 Skor max / skor min x 100 %

4/4 x 100 % = 100 %

 

b.      Menentukan angka persentase terendah

       skor max / skor min x 100 %

        1 / 4 x 100 % = 25 %

 

c.       Rentang persentase = 100 % – 25 % = 75 %

 

4.      Lokasi dan Jadwal Penelitian

Penelitian ini berlangsung dilokasi penelitian yakni di Kampus I Universitas Negeri Makassar (Gunung sari) dimulai pada akhir tahun 2011 dan kemungkinan akan selesai pada awal tahun 2012 yang penelitiannya difokuskan pada mahasiswa Sosiologi Angkatan 2009.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s