Makalah sosiologi pembangunan

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobil alamin, segala puji dan syukur, kita panjatkan atas karunia AllAh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Karena berkat rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang mengambil tema Menggali kultur BUGIS MAKASSAR (kearifan lokal) tentang kehidupan yang harmoni, kerja sama dan solidaritas.

Saya ucapkan terimakasih kepada: Dosen Pembimbing mata kuliah sistem sosial budaya, Bapak DRS. ANSARI dan pihak-pihak lain yang telah membantu menyelesaikan tugas ini secara langsung atau tidak langsung.

Saya selaku penulis makalah menyadari masih banyak terdapat kesalahan dalam hal penulisan ataupun dalam hal ketatabahasaan. Oleh karena itu saya selaku penyusun makalah mengharapkan kritik dan saranya yang bersifat membangun, dan demi perbaikan tugas untuk yang akan datang.

                                                                                                        Makassar, juni 2012

                                                                                                                                                           penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Dengan beribu-ribu gugus kepulauan, beraneka ragam kekayaan alam serta keunikan kebudayaan, menjadikan masyarakat Indonesia yang hidup di berbagai kepulauan itu mempunyai ciri dan coraknya masing-masing. Hal tersebut membawa akibat pada adanya perbedaan latar bekang, kebudayaan, corak kehidupan, dan termasuk juga pola pemikiran masyarakatnya. Kenyataan ini menyebabkan Indonesia terdiri dari masyarakat yang beragam latar belakang budaya, etnik, agama sehingga dinamakan masyarakat multikultural atau masyarakat dengan banyak budaya.

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata ‘Makassar’? Sebagian besar mungkin akan menjawab; BUSER, PATROLI, tawuran mahasiswa, perkelahian antar-kampung, kasar, kriminal, dan yang sejenisnya. Sebagian lain mungkin akan menjawab; PSM, Pantai Losari, Kapal Phinisi, Sultan Hasanuddin, dan ikon-ikon lain yang dimiliki daerah ini. Dan sangat diragukan akan ada yang menjawab; keberanian, keuletan perantau, ketinggian budaya maritim, atau mungkin prinsip untuk tidak membiarkan kesalahan merajalela.

Jika berbicara mengenai budaya yang ada di indonesia tak terlepas dari Budaya bugis Makassar, dimana budaya ini dikenal dengan budaya “siri na pace”, dalam hal ini penulis akan membahas budaya bugis Makassar yang lebih mengkhususkan tentang kehidupan yang harmoni, kerja sama dan solidaritas. Budaya siri na pacce merupakan suatu pemahaman yang terbentuk dari sebuah ikatan solidaritas yang didalamnya menanamkan sebuah rasa malu untuk sebuah penyimpangan terhadap norma dan nilai yang terjaga dalam masyarakat bugis Makassar .

Ada yang menjadi prinsip hidup bagi orang bugis Makassar yakni jiwa keberanian dalam mengungkapkan suatu kebenaran. Tentunya kebenaran dalam konteks kemaslahatan hidup orang banyak dan untuk keharmonisan orang banyak pula. Mereka tak pandang bulu dalam menegakkan kebenaran apapun yang terjadi. Sampai ada istilah “to warani” yaitu pemberani. Sikap ini adalah sebuah karakter bawaan orang Sulawesi selatan khususnya suku Bugis-Makassar yang berlangsung turun temurun dari nenek moyang mereka. Prinsip ini telah dibuktikan oleh pejuang asal Sulawesi Selatan yakni Sultan Hasanuddin hingga di gelar “ayam jantan dari timur” atau jangang lakiya battu iraya dan juga Arung Palakka yang dikenal pemberani dari Tanah Bone dalam berjuang melawan Belanda.

2. Rumusan masalah

  • Apa defenisi budaya bugis makassar
    Apa makna kehidupan harmoni di dalam budaya bugis makassar
  • Tujuan
  • Apa makna kerja sama dan solidaritas yang terkadung dalam budaya bugis makassar

3. Tujuan

Secara umum, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan kejelasan tentang makna kehidupan yang harmoni, kerjasama, dan solidaritas.

Adapun tujuan penulisan makalah ini secara khusus adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui defenisi budaya bugis makassar
  2. Untuk mengetahui makna kehidupan harmoni di dalam budaya bugis makassar
  3. Untuk mengetahui makna kerjasama dan solidaritas di dalam budaya bugis makassar

4. Manfaat

  1. Mengetahui defenisi budaya bugis makassar
  2. Mengetahui makna kehidupan harmoni di dalam budaya bugis makassar
  3. Mengetahui makna kerjasama dan solidaritas di dalam budaya bugis makassar

BAB II

PEMBAHASAN

a. Kebudayaan Bugis-Makassar

Kebudayan bugis makassar adalah kebudayaan dari suku-suku Bugis-Makassar yang mendiami bagian terbesar dari jazirah selatan dari pulau Sulawesi. Penduduk propinsi Sulawesi Selatan terdiri atas empat suku bangsa ialah : Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar. Orang Bugis menggunakan bahasa Ugi dan orang Makassar menggunakan bahasa Mangasara. Bahasa Ugi dan Mangasara merupakan bahasa Arbiter. Huruf yang dipakai dalam naskah-naskah Bugis-Makassar kuno adalah Aksara Lontara, sebuah sistem huruf yang asal dari huruf Sanskerta. Sejak permulaan abad ke-17 waktu agama islam dan kesusastraan Islam mulai mempengaruhi Sulawesi Selatan, maka kesusastraan Bugis dan Makassar ditulis dalam huruf Arab, yang disebut Aksara Serang. Adapun naskah-naskah kuno yang ditulis di daun lontar sekarang sudah sukar untuk didapat Sekarang naskah-naskah kuno dari orang Bugis dan Makassar hanya tinggal ada yang ditulis di atas kertas dengan pena atau lidi ijuk (kallang) dalam Aksara Lontara atau dalam Aksara Serang. Desa-desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuan-kesatuan administratif, gabungan-gabungan sejumlah kampung-kampung lama, yang disebut desa-desa yang baru. Suatu kampong lama, biasanya terdiri dari sejumlah keluarga yang mendiami di antara 10 sampai 200 rumah. Sebuah kampong lama dipimpin oleh seorang matowa atau jannang, lompo’, toddo’ dengan kedua pembantunya yang disebut sariang atau parennung. Suatu gabungan kampung dalam dalam struktur asli disebut wanua dalam bahasa Bugis dan pa’rasangan atau bori’ dalam bahasa Makassar. Pemimpin wanua dulu disebut arang palili’ atau sullewatang dalam bahasa Bugis dan gallarang atau karaeng dalam bahasa Makassar. Pada masa sekarang dalam struktur tata pemerintahan negara Republik Indonesia, wanua menjadi suatu kecamatan. Rumah dalam kebudayaan Bugis-Makassar, dibangun di atas tiang dan terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mempunyai fungsinya yang khusus ialah : (a) Rakkeang dalam bahasa Bugis atau Pammakkang dalam bahasa Makassar, (b) Ale-bola dalam bahasa Bugis atau Kale-balla’ dalam bahasa Makassar, dan (c) Awasao dalam bahasa Bugis atau Passiringan dalam bahasa Makassar. Rumah orang Bugis-Makassar juga digolong-golongkan menurut lapisan sosial dari penghuninya. Berdasarkan hal itu, maka ada tiga macam rumah ialah : (A) Sao-raja dalam bahasa Bugis atau Balla, Lompo dalam bahasa Makassar, (B) Sao-piti’ dalam bahasa Bugis atau Tarata’ dalam bahasa Makssar, (C) Bola dalam bahasa Bugis atau Balla’ dalam bahasa Makassar. Semua rumah adat Bugis-Makassar mempunyai suatu panggung di depan pintu di bagian atas dari tangga yang disebut tamping yang digunakan untuk tempat bagi para tamu untuk menunggu sebelum dipersilahkan oleh tuan rumah untuk masuk ke ruang tamu. Pada permulaan membangun rumah seorang ahli adat dalam hal membangun rumah , menentukan tanah tempat rumah akan dibangun. Beberapa macam ramuan diletakkan pada tempat tiang tenagh yang akan didirikan. Kadang-kadang ditanam kepala kerbau di tempat itu. Setelah kerangka rumah didirikan, maka di bagian atas dari tiang digantung juga ramuan-ramuan dan sajian untuk menolak malapetaka yang mungkin dapat menimpa rumah itu. Penduduk Sulawesi Selatan adalah pada umumnya petani seperti penduduk dari lain-lain daerah di Indonesia. Mereka menanam padi bergantian dengan palawija di sawah. Di berbagai tempat di pegunungan, di pedalaman dan tempat-tempat terpencil lainnya di Sulawesi Selatan, seperti di daerah orang Toraja, banyak penduduk masih melakukan bercocok tanam dengan teknik perladangan. Adapun pada orang Bugis-Makassar yang tinggal di desa-desa di daerah pantai, mencari ikan merupakan suatu mata pencaharian hidup yang amat penting. Dalam hal ini orang Bugis-Makassar menangkap ikan dengan perahu-perahu layar sampai jauh di laut. Adapun kerajinan rumah tangga yang khas dari Sulawesi Selatan adalah tenunan sarung sutra dari Mandar dan Wajo, dan tenunan sarung Samarinda dan Bulukumba. Dalam hal mencari jodoh dalam kalangan masyarakat Bugis-Makassar, adat Bugis-Makassar menetapkan sebagai perkawinan yang ideal : (1) Assialang marola dalam bahasa Bugis atau Passialleang baji’na dalam bahasa Makassar ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu baik dari pihak ayah maupun ibu, (2) Assialanna memang dalam bahasa Bugis atau Passiallenna dalam bahasa Makassar ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah maupun ibu, (3) Ripaddeppe’ mabelae dalam bahasa Bugis atau Nikampabani bellaya dalam bahasa Makassar ialah perkawianan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun ibu. Adapun perkawinan-perkawinan yang dilarang dalam adat masyarakat Bugis-Makassar yang karena dianggap sumbang (salimara’) adalah : (1) perkawinan antara anak dengan ibu atau ayah, (2) perkawinan antara saudara-saudara sekandung, (3) perkawinan antara menantu dan mertua, (4) perkawinan antara paman atau bibi dengan kemenakannya, (5) perkawinan antara kakek atau nenek dengan cucu. Dalam adat masyarakat Bugis-Makassar kawin lari biasa tidak terjadi karena Sompa (Bugis) atau Sunrang (Makassar) ialah maskawin yang tinggi, melainkan oleh belanja perkawinan yang tinggi. Saat agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke-17, maka ajaran Tauhid dalam Islam, mudah dapat difahami oleh penduduk yang telah percaya kepada dewa yang tunggal dalam La Galigo. Demikian agama Islam dapat mudah diterima dan proses itu dipercepat dengan dan oleh kontak terus-menerus dengan pedagang-pedagang Melayu Islam yang sudahmenetap di Makassar, maupun dengan kunjungan-kunjungan orang Bugis-Makassar ke negeri-negeri lain yang sudah beragama Islam. Kira-kira 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik umumnya terdiri dari pendatang-pendatang orang Maluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja. Mereka ini tinggal di kota-kota, terutama Ujung Pandang.

b. makna kehidupan Harmoni di dalam budaya bugis makassar

Harmoni adalah keselarasan. Dalam teori musik, harmoni adalah keselarasan bunyi dalam musik. Untuk menghasilkan bunyi yang selaras dan enak didengar, kita harus menyusun suatu rangkaian nada secara simultan untuk menghasilkan rangkaian kord yang sesuai dalam rangkaian pergerakan musik yang disebut progresi harmonis.

Dalam kehidupan masyarakat jawa, harmoni atau keselarasan ditopang oleh dua prinsip utama, yaitu prinsip hormat dan rukun. Setiap individu dituntut untuk menjaga kerukunan dengan sebisa mungkin menghindari adanya konflik terbuka diantara mereka dengan cara ethok-ethok rukun, sedangkan prinsip hormat merupakan kesadaran dari tiap individu mengenai kedudukannya dalam masyarakat yang hirarkis, dimana seseorang harus bisa menghormati orang lain yang lebih tua atau lebih tinggi derajatnya dengan menerapkan unggah-ungguh dan kawruh basa yang pada dasarnya adalah sebuah cara untuk menjaga kerukunan sebagai pencapaian harmoni dalam masyarakat.

Harmoni atau keselarasan juga dikenal dalam budaya masyarakat Bugis-Makassar, yang terimplementasi dalam konsep siri’ na pacce (Makassar) atau siri’ na pesse (Bugis), yang diartikan sebagai perasaan malu, harga diri, dan kehormatan. Konsep ini mengarahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati harga diri masing-masing, serta saling mengasihi dan menyayangi, sehingga tercipta harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Rasa saling menghormati sangat berperan penting dalam menciptakan situasi yang harmonis, dimana masyarakat bugis makassar mengaplikasikannya di dalam maupun luar daerah sulawesi selatan.

c. Makna Kerja sama dan Solidaritas di dalam budaya bugis makassar

Dalam budaya Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar dan Tana Toraja) ada sebuah istilah atau semacam jargon yang mencerminkan identititas serta watak orang Sulawesi Selatan, yaitu Siri’ Na Pacce. Secara lafdzhiyah Siri’ berarti : Rasa Malu (harga diri), sedangkan Pacce atau dalam bahasa Bugis disebu Pesse yang berarti : Pedih/Pedas (Keras, Kokoh pendirian). Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan individu lain dalam komunitas (solidaritas dan empati).

SIRI” atau Malu, hal ini berarti bahwa malu yang dirasakan seseorang terkait dengan rasa bersalah karena tidak melakukan kebaikan. Nilai kedua yang juga terdapat dalam nilai siri’ adalah harga diri atau martabat. “Nilai harga diri (martabat) merupakan sebuah pranata pertahanan psikis terhadap perbuatan yang tercela serta dilarang oleh kaidah adat.” Pribadi yang memiliki siri’ memiliki suatu kewajiban moral untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi membela siri’ keluarga atau komunitas. Oleh karena itu, siri’ membuat orang tidak hidup dengan dirinya sendiri, melainkan harus berwujud dalam tindakan nyata menurut nilai pesse’.

Pesse’ secara harafiah berarti “pedih atau perih yang dirasakan meresap dalam kalbu seseorang, karena melihat penderitaan orang lain. Ringkasnya, pesse’ adalah bela rasa. Pesse (Bugis) atau pacce (Makassar) berfungsi sebagai pemersatu, penggalang solidaritas, pembersamaan serta pemuliaan humanitas.

Konsep pesse’ tidak lain adalah suatu pengungkapan empati dan solidaritas terhadap penderitaan orang lain. Pesse’ memotivasi sikap nyata kesetiakawanan sosial suku Bugis-Makassar.Solidaritas yang dimaksud adalah solidaritas yang diterapkan dengan tidak memandang bulu, tidak memandang suku maupun ras bahkan agama. Prinsip ini menjadi pemersatu dan pengikat-erat masyarakat Sulawesi Selatan yang terdiri dari beragam suku, bahasa, adat istiadat dan agama, karena nilai budaya siri’ na pesse’ dipegang teguh oleh semua orang apapun agamanya, selagi dia bagian anggota masyarakat Sulawesi Selatan.

Bagi orang bugis makassar, Komunitas sangatlah penting. Ikatan solidaritas dan kesetiakawanan sangat dijunjung tinggi. jika kita pernah minum di gelas yang sama, maka engkau adalah saudaraku dan saya siap mati untuk masalahmu. Penghianatan adalah perbuatan yang sangat nista dan sangat rendah dimata orang bugis makassar. ketik bersama seorang kawan dan ada masalah yang menimpanya, maka  harus dibela kalau perlu harus mati bersamanya, meninggalkan kawan yang dapat masalah adalah perbuatan yang dianggap hina oleh orang bugis makassar. Mungkin ada pembaca yang heran jika tawuran mahasiswa bisa terjadi hanya karena serombongan cewek di goda  cowok, sementara di rombongan cewek itu ada satu orang cowok. jika cowok yang seorang ini tidak membela maka akan sangat terhina, dan jika seorang cowok ini melawan, akan datanglah teman2nya untuk membantu dengan alasan setiakawan.

Dalam masyarakat Bugis Makassar, kekerabatan juga sinonim dengan kehormatan. Membaur menjadi anggota dari suatu rumpun kekerabatan yang terhormat adalah suatu kebanggaan, makanya sering terjadi pernikahan antar keluarga yang ongkos sosialnya sangat tinggi dalam bentuk uang panaik. Selain biaya teknis pesta pernikahan yang perlu ditanggung oleh keluarga calon mempelai lelaki, juga uang panaik merupakan representasi dari biaya asimilasi menjadi anggota keluarga dari rumpun kerabatan calon mempelai perempuan. Ini bisa diartikan bahwa pembauran ke rumpun kerabat yang terhormat dapat menaikkan derajat kehormatan keluarga lelaki.

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Suku bugis makassar tak akan habis jika dibahas mulai dari struktur, budaya, dan aset yang ditinggalkan, berjuta-juta misteri terdapat di dalamnya. Berbagai hal yang dapat kita temui di dalam menggali kultur bugis makassar, penulis menyimpulkan bahwa didalam budaya bugis makassar terdapat sebuah kehidupan yang harmonis yang selalu di jaga di setiap individu, kehidupan harmonis tersebut tak terlepas dari sifat solidaritas yang dipegang teguh selama ini, alhasil suku bugis makassar terkenal di pelosok negeri sebagai suku yang persatuannya sangat erat, walaupun tak terlepas dari konlik yang ada di dalam tapi ketika meninggakan kampung tercinta, rasa persaudaraan begitu kental ketika bertemu di kampung orang, kerja sama yang terjalin di setiap individu membuat suku bugis makassar terkenal juga, bila kita menelisik cerita-cerita dari suku lain, suku bugis terkenal dengan kerja sama dan persatuannya di negeri orang, contoh  di singapura terdapat bugis street, di afrika, kampung bugis di jawa dan masih banyak lagi, kesemuanya itu tak terlepas dari “siri na pacce” , rasa persatuan yang tinggi, kerja sama dan sikap menciptakan kehidupan yang harmonis.

Berdasarkan pada pembahasan bab terdahulu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.     Bahwa suku BUGIS MAKASSAR sangat menanamkan nilai-nilai kehidupan yang harmoni, dimana keselarasan dalam menjalani kehidupan sangat di pegang teguh oleh masyarakat BUGIS MAKASSAR, konsep saling menghargai antar sesama adalah salah satu kunci terciptanya keselarasan.

2.     Kerja sama adalah hal yang paling sering di temui dalam masyarakat BUGIS MAKASSAR, dimana setiap kegiatan dilakukan secara kerja sama agar terciptanya masyarakat yang harmonis.

3.     Solidaritas adalah salah satu bentuk yang di agungkan masyarakat BUGIS MAKASSAR, masyarakat BUGIS MAKASSAR juga terkenal dengan solidaritasnya yang sangat kuat, dimana rasa persaudaraan yang sangat kental masih di pegang teguh.

4.   Bahwa “SIRI NA PACCE” adalah penopang dari tiga kesimpulan di atas, dan semuanya saling terkait.

B.  Saran

Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya, maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:

1.     Agar kiranya sikap harmoni yang sekarang ini di pertahankan atau di perjuankan lagi agar tercipatanya kehidupan yang aman, tentram dan damai.

2.   Kerjasama lebih di perkuat lagi agar terciptanya masyarakat yang

3.   Agar kiranya solidaritas BUGIS MAKASSAR di gunakan dengan baik bukan solidaritas yang menuju kearah yang tidak baik.

4.   Agar kiranya budaya “SIRI NA PACCE”  bisa dimengerti secara harfiah, karena kebanyakan menilai budaya “SIRI NA PACCE” lebih condong ke arah kejahatan, pertikaian dan hal-hal yang tidak baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://filsafat.kompasiana.com/2011/12/20/makassar-tidak-kasar/

http://www.scribd.com/doc/97481437/KEBUDAYAAN

BUGIShttp://fairuzelsaid.wordpress.com/2011/06/27/siri-na-pacce/

http://adnanarticle.blogspot.com/2010/10/harmoni.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s