GERAKAN SOSIAL

GERAKAN SOSIAL

Oleh iyulmakepunk

A. Defenisi Gerakan Sosial

            Gerakan Sosial merupakan perilaku kolektif yang ditandai kepentingan bersama dan tujuan jangka panjang, yaitu untuk mengubah atau mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada di dalamnya. Ciri lain Gerakan Sosial ialah penggunaan cara yang berbeda diluar institusi yang ada (Kamanto Sunarto, 2004: 199).

Gerakan sosial adalah suatu upaya yang kurang lebih keras dan teroganisir yang dilakukan oleh orang-orang yang realtif besar jumlahnya, entah untuk menimbulkan perubahan, entah untuk menentangnya (Rafael Raga Maran, 2001: 65)

Diatas telah dijelaskan bahwa suatu gerakan sosial merupakan upaya yang kurang lebih keras dan teroganisir di kalangan orang-orang yang realtif besar jumlahnya, entah utnuk menimbulkan perubahan, entah untuk menentang perubahan. Di dalam konsep ini terkandung ide bahwa orang-orang berintervensi dalam proses perubahan sosial. Daripada menanggapi secara pasif aliran hidup atau aspek-aspeknya yang bermasalah, mereka berusaha mengubah jalan sejarah. Dari signifikansi yang sama, mereka melakukan aktivitas bersama. Orang-orang secara sadar melakukan aktivitas bersama dengan suatu kepekaan akan berpartisipasi dalam suatu usaha bersama. Dengan demikian, gerakan-gerakan sosial merupakan wahana yang memungkinkan manusia secara kolektif mempengaruhi perjalan peristiwa-peristiwa manusia melalui organisasi formal

           

(Piotr Sztompka, 2010: 325-326) Definisi yang memadai harus dapat membedakan fenomena gerakan sosial ini dari kategori agen lain (1,2,dan 3) dan dari warga lain dari ketegori yang sama (4). Jadi defenisinya harus terdiri dari komponen berikut :

  1. Kolektivitas orang yang bertindak bersama.
  2. Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan partisipan menurut cara yang sama.
  3. kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah derajatnya dari organisasi formal.
  4. Tindakannya mempunyai derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dan bentuknya tak konvensional.

Jadi gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka.

Penekanan serupa ditemukan dalam berbagai defenisi pakar di berbagai literatur :

  1. Upaya kolektif untuk membangun tatanan kehidupan yang baru (Blumer, 1951 : 199).
  2. Upaya kolektif untuk mengubah tatanan sosial (Lang dan Lang, 1961 :507).
  3. Upaya kolektif untuk mengubah norma dan nilai (smelser, 1962 : 3 ).
  4. Upaya kolektif untuk mengendalikan perubahan atau untuk mengubah arah perubahan (Lauer, 1976 : xiv ).

B. Sebab-Sebab Gerakan Sosial

(Rafael Raga Maran, 2001: 78-81) Mengapa suatu gerakan sosial terbentuk?. Faktor-faktor apa yang mendorong orang melakukan suatu gerakan bersama? Dikalangan sosiolog terdapat dua pandangan tentang masalah ini. Menurut pandangan pertama, gerakan sosial disebabkan oleh kesengsaraan, terutama karena masalah sosial dan kesukaran ekonomis. Cara pandang ini disebut pendekatan konflik. Namun, argumen pertama ini dianggap tidak menyakinkan oelh penganut pandangan kedua. Menurut mereka kesengsaraan, problem-problem sosial, dan kesukaran ekonomis itu terdapat di berbagai lingkungan masyarakat. Pun penindasan serta penderitaan terdapat di berbagai belahan dunia dalam sepanjang sejarah umat manusia. Namum gerakan-gerakan sosial relatif jarang terjadi. Para sosiolog penganut pandangan kedua menjelaskan bahwa penyebab gerakan-gerakan sosial adalah faktor pengorganisasian sumber daya. Sistem mobilisasi sumber daya yang timpang menjadi pemicu munculnya gerakan-gerakan sosial. Cara pandangan kedua ini disebut pendekatan moblisasi sumber saya. Selanjutnya kita akan melihat masing-masing pendekatan tersebut.

a. Pendekatan Konflik

Adalah Karl Marx yang mengatakan bahwa kesengsaraan dan kemiskinan proresif kelas pekerja merupakan akibat dari ekploitasi kapitalis. Katanya, lambat laun kondisi-kondisi semacam ini akan ditentang keras oleh kaum pekerja.para pekerja akan menemukan akar sosial dari penderitaan mereka, yakni karena ulah majikan mereka. Karena iu, mereka pun akan menggulingkan para pendindas mereka.

Namun Marx juga melihat bahwa kesengsaraan dan eksploitasi yang parah tidak perlu menghasilkan gairah revolusioner. Ia menunjukkan bahwa kesengsaraan masyarakat kelas bawah dapat menjadi sangat intensif dan alienasi yang diakibatkannya pun sangat masif (terjadi secara besar-besaran). Sehingga semua kesadaran sosial dan revolusioner pun dimatikan. Meskipun menekankan segi-segi seperti “kesengsaraan progresif”, atau “kesukarang absolut”, dalam tulisan-tulisan politik Marx ditemukan juga pandangannya tentang suatu kerugian relatif. Ia meramalkan bahwa kelas pekerja akan mengalami keadaan yang lebih baik bersamaan dengan kemajuan kapitalisme. Namum jurang antara majikan dan pekerja akan melebar, yang menyebabkan para pekerja merasakan ketidakberuntungan komparatif mereka secara intensif.

b. Pendekatan Mobilisasi Sumber daya

para pendukung pendekatan konflik berusaha menemukan sebab-sebab umum yang memotivasi terjadinya gerakan-gerakan sosial. Mereka mempertanyakan, “Mengapa orang-orang itu sangat menginginkan suatu tujuan sosial dan yakin bahwa mereka dapat mencapinya? Berbeda dengan para pendukung pendekatan konflik, para pendukung mobilisasi sumber daya mempertanyakan, “Bagaimana orang-orang itu dapat mengorganisir dan menggunakan berbagai sumber daya mereka secara efektif?” para pendukung pendekatan mobilisasi sumber daya beranggapan bahwa ketidakpuasan kurang lebih konstan, maka persoalan itu pun selalu terdapat di dalam masyarakat modern. Bahkan tokoh Revolusioner Rusia, Leon Trotsky (1959:249) pun sampai pada suatu kesimpulan yang mirip. Menurut Trotsky, seandainya kekurangan-kekurangan itu cukup untuk menyebabkan revolusi, massa akan selalu berada dalam revolusi. Dengan demikian, para pendukun pendekatan mobilisasi sumber daya menganggap hal itu perlu untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan dan mengaktifkan suatu gerakan sosial. Malahan mereka menekankan pentingnya faktor-faktor struktural, seperti ketersediaan berbagai sumber daya bagi pencapaian tujuan-tujuan khusus dan jaringan relasi antarpersonal yang berperan sebagai fokus bagirekruitmen. Keterlibatan orang-orang dalam suatu gerakan sosial bukan karena mereka alienasi, tetapi sebagai suatu tanggapan terhadap suatu proses pengambilan keputusan yang rasional. Mereka tidak asal terlibat dalam suatu gerakan sosial. Mereka memperhitungkan untung rugi dari keterlibatan tersebut. Dari perspektif ini dapat dikatakan bahwa gerakan-gerakan sosial itu merupakan cerminan kesadaran para partisipan untuk berpatisispasi dalam pembangunan dan rekonstruksi masyarakat mereka.

C. Ciri-ciri Gerakan Sosial

(Piotr Stompka, 2010 : 325-326) Pakar kontemporer mengemukakan ciri gerakan sosial yang lebih luas sebagai berikut :

  1. wujud kesukaan untuk berubah dikalangan anggota masyarakat atau upaya kolektif khusus untuk menyatakan keluhan dan ketidakpuasan dan atau mendorong atau mengahambat perubahan. (Zald & Berger, 1978 : 828, 841)
  2. Tindakan kolektif yang kurang lebih teroganisir, bertujuan perubahan sosial atau lebih tetapnya kelompok individu secara bersama bertujuan mengungkapkan perasaan tak puas secara kolektif di depan umum dan mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tidak memuaskan itu. (Eyerman & Jamison, 1991 : 43-4)
  3. Upaya kelompok tak konvensional untuk menciptakan atau menentang perubahan atau lebih rinci, kelompok nonkonvensional yang mempunyai derajat organisasi formal berbeda-beda dan yang berupaya menciptakan atau mencengah tipe perubahan radikal atau reformis (Wood & Jackson, 1982 : 3)

(Piotr Stompka, 2010 : 326) Secara deskriptif, gerakan sosial mengacu pada kriteria  seperti berikut :

  1. Jenis kelompok yang bertindak dengan persetujuan bersama ; usianya lebih lama dan lebih kompak ketimbang gerombolan orang  ramai, massa dan kerumunan, tetapi tak terorganisasi seperti klub politik dan asosiasi lainnya. (Heberle dalam Banks, 1972 :8)
  2. Rentetan interaksi terus-menerus antara pemegang kekuasaan nasional dan organisasi yang berhasil menyatakan diri berbicara mengatasnamakan perwakilan yang kurang formal; dalam interaksi itu organisasi ini mengajukan tuntutan perubahan distribusi atau pelaksanaan kekuasaan dan kembali menuntut bersama pengunjuk rasa pendukungnya. (Tilly, 1979b: 12).

Aspek paling umum dan paling ditekankan dalam defenisi diatas adalah keeratan antara gerakan sosial dan perubahan sosial. Seperti diamati Wood & Jackson

Perubahan sosial adalah basis yang menentukan ciri-ciri gerakan sosial. Gerakan sosial berkaitan erat dengan perubahan sosial. (1982:6).

Meski sudah jelas, namun masalah ini masih memerlukan tiga penjelasan sebagai berikut :

  1. Perubahan sosial selaku tujuan sosial berarti dua hal yang berbeda. Tujuan ini bisa positif, memperkenalkan sesuatu yang belum ada (pemerintah atau rezim politik baru, adat baru, hukum atatu pranata baru). Tujuan ini juga bisa negatif : menghentikan, mencegah atau membalikkan perubahan yang dihasilkan proses yang tak berkaitan dengan gerakan sosial (misalnya kemorosotan kualitas lingkungan alam, kenaikan angkat fertilitas, peningkatan angka kejahatan) atau dari aktivitas gerakan lain yang bersaing (misalnya UU anti aborsi yang diajukan dibawah tekanan prohidup dan penentangan keras oleh propilihan bebas).
  2. Gerakan sosial mempunyai berbagai status penyebab berkenaan dengan perubahan. Di satu pihak, gerakan ini dapat dianggap sebagai penyebab utama perubahan dalam arti sebagai kondisi yang diperlukan dan cukup untuk menimbulkan perubahan. Cuma masalahnya adalah bahwa untuk biasanya untuk berhasil, gerakan sosial harus terjadi dalam lingkungan yang kondusif, berhadapan dengan struktur yang menguntungkan atau, secara metafora, “menunggangi kepala” kekuatan sosial lain. Gerakan sosial hanya akan efektif jika dilengkapi dengan faktor lain. Kegiatannya jarang menjadi penyebab perubahan sepenuhnya. Biasanya kehadiran gerakan ini hanya sebagai pelengkap, tak pernah menjadi syarat mutlak perubahan sosial. Dilain pihak, gerakan sosial hanya dilihat sebagai dampak, efiphenomena atau gejala yang menyertai proses yang dikembangkan oleh daya dorongnya sendiri atau momentumnya sendiri (misalanya menyertai kemajuan modernisasi, urbanisasi, kemunculan masyarakt massa atau krisis ekonomi tiba-tiba). Masalahnya adalah bahwa selaku persoalan fakta empiris, banyak gerakan sosial yang berperan dalam munculnya perubahan sosial, mengubah jalannya, arahnya, dan kecepatannya-terlepas dari yang benar-benar memprakarsai dan mempengaruhi perubahan.

Pendekatan yang paling masuk akal mengkritik dua pendekatan diatas. Gerakan sosial dilihat sebagai mediator dalam rangkaian penyebab perubahan sosial. Gerakan sosial dilihat sebagai produk perubahan sosial terdahulu dan sebagai produsen (sekurangnya ko-produsen) transformasi sosial selanjutnya. Di sini gerakan sosial lebih terlihat sebagai wahana, pembawa atau pemancar perubahan terus-menerus ketimbang sebagai penyebab utamanya atau wujud permukaan semata. Gerakan tak muncul dalam kevakuman, tetapi muncul di dalam waktu historis tertentu, berkaitan dengan proses sosial dan berupaya memengaruhi jalannya sejarah. Tom burns memahami status perantara gerakan sosial ini dan menyebutnya sebagai aktor sosial, kelompok, organisasi dan gerakan pengemban, pembuat dan perombak sistem hukum. Gerakan sosaial adalah pengemban struktur sosial dalam bentuk sistem hukum yang diperoleh dan pada waktu yang bersamaan gerakan ini menciptakan, mencipta ulang dan merombak sistem hukum melalui tindakannya (Burns,et.al.1985: iv) Pendapat serupa dikemukakan Dieter Rucht : “Gerakan sosial pada waktu bersamaan adalah ciptaan sekaligus pencipta pola masyarakat. Meski gerakan sosial bertindak dalam suasana historis yang diciptakan dan dalam suasana yang relatif stabil, namun gerakan ini juga secara aktif berpartisipasi mengubah percaturan politik, konstelasi kekuasaan, dan simbol kultural ” (1988:306). Liat diagram dibawah.

Aliran Perubahan Sosial Terus-Menerus

Perubahan Sosial Terdahulu

 

Gerakan Sosial

 

Gerakan Sosial Berikutnya

 

3. Penjelasan ketiga berkaitan dengan tempat terjadinya perubahan sosial yang  disebabkan gerakan sosial. Biasanya perubahan sosial disebabkan oleh gerakan sosial yang dilakukan dalam masyrakat yang lebih luas yang berada di luar gerakan itu sendiri. Kelihatannya gerakan sosial itu seakan-akan adalah tindakan masyarakat dari luarnya, tetapi jangan lupa bahwa setiap gerakan sosial merupakan bagian masyarakat itu juga yang mengalami perubahan termasuk segmen anggotanya dan merembesi bidang fungsinya tertentu. Karena itu dalam keanggotannya, gerakan itu terjadi di dalam masyarakat itu sendiri, bertindak terhadap masyarakat dari dalam. Inilah kasus masyarakat mengubah masyarakat. Sebagian besar perubahan yang dihasilkan gerakan sosial adalah perubahan (internal) dalam gerakan sosial itu sendiri (anggotanya, ideologinya, hukumnya, pranatanya, bentuk organisasinya, dan sebagainya) dan juga perubahan eksternal dalam masyarakat lebih luas (hukumnya, rezim politiknya, kulturnya) yang ditimbulkan oleh umpan balik gerakan terhadap anggotanya dan strukturnya sendiri, perubahan lingkungan tindakannya maupun sumbangan aktor (motivasinya, sikapnya, ideologi yang diterima, dan sebagainya). Gerakan sosial adalah unik dalam hubungan timbal balik yang erat antara perubahan internal dan ekternal ini. Keunikannya, gerakan sosial mengubah dirinya sendiri dan ( memobilisasi, mengorganisir) untuk mengubah masyarakat lebih efektif. Perubahan di dalam gerakan dan perubahan oleh gerakan, berlangsung bergandengan, membuat saling tergantung. Keunikan ciri gerakan sosial ini dibenarkan oleh Gary Marx & James Wood dalam (Piotr Stompka, 2010 : 329) yang menyatakan: “Gerakan sosial lebih dinamis ketimbang kebanyakan bentuk sosial lain”, Gerakan sosial itu adalah perubahan sosial par excellence.

D. Gerakan Sosial Dan Modernitas

Secara historis gerakan sosial adalah fenomena universal. Rakyat diseluruh masyarakat manusia tentu mempunyai alasan untuk bergabung dan berjuang untuk mencapai tujuan kolektif mereka dan menentang orang yang menghalangi mereka mencapai tujuan itu. Sejarawan telah melukiskan pemberontakan dan ledakan ketidakpuasan di zaman kuno, gerakan keagamaan di abad pertengahan, pemberontakan petani yang hebat ditahun1381 dan 1525, reformasi dan gerakan kultural, etnis dan nasional sejak zaman Renaisan. Gerakan sosial bersarlah yang menyumbang terhadap kelahiran modernitas disaat revolusi borjuis besar di Inggris, Perancis, dan AS. Strategi dan taktik gerakan di semua zaman itu terlah berkembang, namun kebanyakan pengamat sependapat bahwa dalam masyarakat modernlah “era gerakan sosial benar-benar dimulai”. Hanya diabad 19 dan 20 gerakan sosial telah menjadi begitu banyak, besar, penting dan besar akibatnya terhadap jalannya perubahan (Piotr Stompka, 2010 : 329). Pengamat kontemporer Neidhardt & Rucht dalam (Piotr Stompka, 2010 : 329) menyatakan Masyarakat yang sangat modern cenderung menjadi “masyarakat gerakan”.

Gerakan sosial adalah bagian sentral modernitas. Gerakan sosial menentukan ciri-ciri politik modern dan masyarakat modern menurut Eyerman & Jamison dalam (Piotr Stompka, 2010 : 329). Gerakan sosial berkaitan erat dengan perubahan struktural mendasar yang terkenal sebagai modernisasi yang menjalar kebidang “sistem” dan kehidupan dunia menurut Rucht dalam (Piotr Stompka, 2010 : 329).

Piotr Stompka, 2010 : 329-321) Ada beberapa alasan yang menyebabkan gerakan sosial di zaman modern lebih menonjol dan lebih signifikan. Sebagai alasannya telah dikenal dalam analisis pakar klasik abad 19 tentang ciri modernitas sebagai berikut :

  1. Alasan pertama disebut “Tema Durkheim”. Kecenderungan kepadatan penduduk dikawasan sempit terjadi bersamaan dengan urbanisasi dan indutrialiasasi dan menghasilkan kepadatan moral penduduk yang besar. Kepadatan ini membuka peluang lebih baik untuk mengadakan kontak dan interaksi untuk mengembangkan kesamaan, pandangan, artikulasi ideologi bersama dan merekrut pendukung. Singkatnya, peluang mobilisasi dan gerakan sosial sangat meningkat. Mungkinkah gerakan sosialis terjadi tanpa sistem pabrik dengan ribuan buruh yang terlibat dalam kontak langsung? Kebetulankah bila kampus universitas dengan ribuan mahasiswa yang terkonsentrasi menjadi landasan segala persaingan?
  2. Gambaran modernitas lain adalah yang disebut “Tema Tonnies”, yakni atomisasi dan isolasi individu dalam Gesellschaft yang bersifat impersonal. Riesman menyebutnya “kerumunan yang kesepian” (1961). Keterasingan, kesepian, pejungkir balikan nilai menimbulkan idaman terhadap komunitas, solidaritas, dan kebersamaan. Keanggotaan gerakan sosial menyediakan pengganti yang memuaskan bagi kebutuhan manusia yang universal itu. Dengan cara ini masyarakat modern memasok calon anggota yang banyak sekali yang siap untuk direkrut dan dimobilisasi.
  3. Tema Marxian. Peningkatan ketimpangan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan perbedaan kekayaan, kekuasaan, prestise yang sangat tajam ini menimbulkan pengalaman dan kesan ekploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan perampasan hak yang menggerakkan permusuhan dan konflik kelompok. Orang yang kepentingan tersembunyinya terancam, siap untuk bertempur melawan orang yang membahayakan mereka. Ketimpangan struktural (Smelser,1962) yang merangsang timbulnya gerakan sosial tampak lebih nyata ketimbang yang pernah ada sebelumnya.
  4. Tema Weberian. Tranformasi demokratis sistem politik, membuka peluang bagi tindakan kolektif massa rakyat. Pengunggakan perbedaan pendapat, artikulasi kepentingan tersembunyi dan kegiatan unuk mempertahankan nya menjadi hak yang syah dan tanggung jawab selaku warga negara makin diharapkan. Peluang kemunculan gerakan sosial berkadar politik akan berubah secara radikal (Tarrow,1985).
  5. Gambaran yang disebut Tema Comte dan Saint Simon. Menereka menenkankan modernitas pada penaklukan, kontrol, dominasi, dan manipulasi realitas: mula-mula terhadap realitas alam dan akhirnya juga terhadap realitas masyarakat manusia. Keyakinan bahwa perubahan sosial dan kemajuan tergantung pada tindakan manusia. Keyakinan bahwa perubahan sosial dan kemajuan tergantung pada tindakan manusia, bahwa masyarakat dapat dibentuk oleh anggotanya untuk keuntungan mereka sendiri, merupakan syarat ideologis penting utnuk aktif dan mobilisasi dan gerakan sosial. Voluntarisme mengembangkan gerakan sosial sedangkan fatalisme membunuhnya.
  6. Masyarakat modern mengalami peningkatan pendidikan dan mempunyai kultur umum. Partisipasi dalam gerakan sosial membutuhkan kesadaran, imajinasi, kepekaan moral, dan perhatian terhadap masalah publik dalam derajat tertentu serta kemampuan menggeneralisirnya dari pengalaman pribadi dan lokal. Kesemuanya itu berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan. Revolusi pendidikan yang menyertai penyebaran kapitalisme dan demokrasi, memperluas tumpukan potensi anggota gerakan sosial.
  1. Kemunculan dan penyebaran media massa (Molotoch, 1979). Media massa merupakan instrumen yang sangat kuat untuk mengartikulasikan, membentuk, dan menyatukan keyakinan, merumuskan dan menyebarkan pesan ideologis, serta membentuk pendapat umum. Media massa memperluas cakrawala pandangan rakyat melampui dunia pribadi mereka menuju pengalaman kelompok, kelas, dan bangsa lain yang berjauhan letak geografisnya. Ini menimbulkan dua akibat: (a) Keterbukaan cakrawala ini menciptakan “efek demonstrasi” penting yakni pelunag untuk membandingkan kehidupan masyarakat sendiri dan kehidupan masyarakat lain. Kesan ketakadilan yang merugikan yang disertai perasaan “terampas relatif” menyediakan latar belakang psikologis yang kondusif bagi gerakan sosial. (b) Melalui media massa orang juga belajar mengenai keyakinan, sikap, dan keluhan politik orang lain. Ini memungkinkannya untuk menaksir tingkat keburuka keaddan bersama, untuk mengakhiri “kedunguan” atau kekeliruan bersama, menghilangkan keyakinan bahwa ia sendiri yang merasa tak senang dan sengsara. Media massa pun membangkitkan solidaritas, loyalitas, dan konsensus yang berkembang melampaui lingkaran sosial yang ada sebelumnya. Perasaan adanya masalah bersama dan solidaritas yang melampaui batas lokal ini merupakan syarat sosio-psikologis lainnya untuk kemunculan gerakan sosial.

E. Tipe-Tipe Gerakan Sosial

Ahli sejarah Crane Brinton dalam (Rafael Raga Maran,2001: 70-72), menulis : “No ideas, no revolution”. Dan ia pun tentu setuju kalau dikatakan, “No ideas, no social movement”. Suatu ideologi, seperangkat kepercayaan dan mitos, penting bagi suatu gerakan sosial. Suatu ideologi menyediakan bagi manusia konsep-konsep tentang tujuan-tujuan gerakan, rasional keberadaanya, tuntutannya atas pengaturan sosial yang ada, dan rangcangan aksinya. Suatu ideologi berfungsi sebagai sejenis perekat yang menyatukan orang-orang dalam suatu kepercayaan bersama, dengan demikian memantapkan solidaritas. Namum ideologi pun berfungsi lebih dari itu. Ia tidak hanya menyatukan orang-orang, melainkan juga mengisolasi dan memisahkan individu-individu; ia menyatukan mereka dengan suatu alasan. Dalam fungsi ini ideologi menyiapkan mereka untuk mau mengorbankan diri, bahkan demi mengorbangkan hidup mereka demi “Allah yang Benar”, “Bangsa yang Baru”, atau demi “Revolusi”.

Gerakan-gerakan sosial dapat dibedakan berdasarkan basis ideologis mereka, atau khususnya, berdasarkan tujuan-tujuan ideologis mereka. Beberapa gerakan bermaksud mengubah masyarakat dengan menentang nilai-nilai fundamental. Gerakan-gerakan semacam ini disebut gerakan-gerakan revolusioner. Sementara itu terdapat gerakan-gerakan yang berusaha memodifikasi kerangka kerja dari skema yang ada. Ini disebut gerakan-gerakan reformasi. Gerakan-gerakan revolusioner mendukung penggantian kerangka nilai yang ada. Gerakan-gerakan reformasi mengupayakan perubahan-perubahan yang akan mengimplementasikan kerangka-kerangka nilai yang ada secara lebih memadai. Gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat yang diidentifikasikan dengan Martin Luther King, Jr., merupakan suatu gerakan reformasi. Gerakan tersebut berusaha memperluas nilai yang telah diakui dalam demokrasi politik kepada warga kulit putih Amerika Serikat. Sebaliknya, sejumlah kelompok nasionalis hitam yang muncul pada akhir tahun 1960-an adalah gerakan revolusioner. Mereka berusaha melembagakan perubahan-perubahan dasar di dalam bentuk pemerintahan Amerika, menata ulang struktur kelas Amerika, dan membuka suatu sistem otonomi yang lebih besar bagi warga kulit hitam.

Gerakan-gerakan sosial muncul tidak hanya untuk tujuan pelembagaan perubahan, tetapi juga untuk memblokir perubahan atau mengeliminasikan perubahan yang sudah dilembagakan sebelumnya. Ini yang disebut gerakan-gerakan perlawanan. Memang suatu gerakan mengundang gerakan balasan. Di Indonesia kita menyaksikan perlawanan keras dari berbagai kalangan pro status quo terhadap gerakan reformasi yang dipelopori oleh generasi muda mahasiswa. Di Amerika Serikat, gerakan hak-hak sipil yang diperlopori warga kulit hitam di kawasan selatan mendapat perlawanan dari kaum kulit putih pada permulaan tahun 1950-an.

Tipe lain dari gerakan sosial disebut gerakan-gerakan ekspersif, yang kurang berkonsen dengan perubahan institusional. Tipe gerakan sosial ini berusaha merenovasi atau memperbarui orang-orang dari dalam, sering kali dengan menjanjikan suatu pembebasan di masa depan. Termasuk dalam tipe ini adalah gerakan Ratu adil.

DAFTAR PUSTAKA

Rafael Raga Maran, Pengantar Sosiologi Politik,  Jakarta : Rineka Cipta, 2001.

Sunarto, Kamanto, Pengantar Sosiologi, Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004.

Sztompka, Piotr, Sosiologi perubahan sosial , jakarta : Prenada, 2010.

Poloma, Margaret M, Sosiologi Kontemporer, Jakarta : Rajawali Pers, 1994.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s