Mutilasi

Hari itu adalah hari yang sama dengan hari sebelumnya, waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi, waktunya untuk berangkat kerja, tak lupa kucium kening istriku yang masih terlelap tidur karena sebelumnya menyiapkan makanan di meja makan di waktu shubuh, hari ini aku sangat bersemangat untuk bekerja karena senyuman indah istrikulah yang pertama kulihat disetiap paginya ketika kubangun, senyum yang selalu membuat suami manapun akan bangga dengan ketulusannya…ohh istriku tersayang..aku menyayangimu. Dan setelah melewati pintu rumah aku tak lupa memberikan senyuman khas kepada mentari yang teriknya menembus jiwa dan menghangatkan hati.

sesampainya di kantor, aku diperhadapkan dengan kerjaan yang menumpuk, yahh ini hari senin dimana hari weekendnya aku sempatkan berlibur dengan istri untuk keliling makassar, semangatku kian kurang dengan kerjaan yang menumpuk, bos pun dengan kumis tebalnya tak henti-hentinya memaki dan menceramahi saya berulang kali.
waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 sore, akhirnya waktunya pulang kerumah, dengan banyaknya kerjaan yang ada di kantor, saya membawanya ke rumah untuk diselesaikan, di rumah saya disambut senyuman lebar istriku, senyuman yang setiap harinya menyapaku dengan tulus, tapi aku tak menanggapinya dengan serius dikarenakan masih capek dikantor dan pusing memikirkan kerjaan yang kubawa di rumah, namun istriku tetap senyum memandangku, mungkin memendam kekecewaannya walau hanya didalam hati.

istriku memanggilku untuk makan malam, tapi aku masih sibuk dengan kerjaanku yang banyak, istriku memanggilku lagi dengan ucapan

“ayah ayo makan, kerjaannya nanti aja dikerja” dilengkapi dengan senyuman manisnya.

tapi tetap aku gigih untuk mengerjakan tugas tersebut tanpa menghiraukannya. tugas tersebut kukerja sampi larut malam, sesekali istriku bangun dengan mengatakan

” yahh waktunya tidur, besok aja dikerja” ,

kujawab dengan ucapan ” iyaa…ibu tidur aja dulu” ,

Tugas itupun kuselesaikan tepat sebelum adzan shubuh berkumandang di dinginnya dini hari itu.
Tak sampai 4 jam tidurku, pagi pun datang menyapaku dengan teriknya, aku bangun kesiangan saat itu, akupun memaki-maki istriku yang tak membangunkanku disaat pagi, istriku memberi penjelasan

“yah aku udah bangunin ayah tapi ayah ngak mau bangun-bangun, karna kecapean aku tidak mengganggu ayah” dengan muka bersalah

walaupun dengan alasan itu aku tak henti-henti untuk memarahinya. Sampai dikantor akupun dimarah-marahi oleh atasanku, aku semakin emosi dengan keadaan ini, terlebih dengan atasanku yang memberi aku tugas baru yang banyak, marah pun tak berguna kesabaran pun dipendam untuk semuanya.

Di kantor sesekali istriku mengirim sms kepada saya “yahh aku kangen sama ayah” , aku semakin emosi dengan semua ini, dengan emosi yang meluap akupun membalas smsnya dengan kata “heii…dirumah kita udah ketemu , ayah lagi kerja jangan di ganggu”, istriku tetap mengirim pesan ” ayah jangan marah, ini cuman kerinduan istri kepada suaminya, saya minta maaf kalo mengganggu ayah” , akupun bertanya-bertanya kenapa engkau merindukanku sedangkan kita ketemu tadi malam, disaat kerjapun engkau menggangguku, apa sebenarnya maumu??, dengan luapan emosipun aku menjawab pesan istriku “iyaa tunggu papa pulang aja, tidak usah ganggu-ganggu papa”

.
Sepulang kerja dengan keringat yang menyengat, aku sekali lagi menatap istriku, tapi berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku disapa dengan tangisan…seketika aku heran dengan tangisan itu, akupun bertanya

“ayah salah apa??”,

dia pun jawab “ayah tidak salah kok, aku cuman rindu sama ayah, jangan tinggalkan ibu lagi yahh  ”

aku menanggapinya dengan mengatakan

” iyaa…tidak usah nangis,malu sama tetangga, entar tetangga kira kita berantem”

istrikupun memelukku dengan hangat dan membisikku

“ayah aku kangen sama ayah, aku ingin ayah di samping ibu terus, ibu kesepian dirumah menunggu ayah”

Tapi dengan kondisi capek serta penat aku menjawabnya

“iya-iya ayah mau istrihat dulu jangan ganggu ayah dulu”

Istrikupun melepas pelukannya dan membawa tas yang kupakai dan membawanya ke kamar.
Hari itu mentaripun terbit menyemburkan cahayanya, aku bangun sendiri tanpa bantuan istri, tak ada lagi makanan yang disiapkan, baju yang di setrika, kubergegas ke kantor untuk bekerja, di perjalan menuju kantor aku mendengarkan musik klasik sembari menunggu macet yang tak henti-hentinya menyapa disaat pagi, seketika aku merinding mendengar lagu tersebut seketika aku kaku tak berdaya, menyesali apa yang terjadi dengan istriku dulu, aku sadar dengan sikapku dulu yang tak menghiraukan kerinduannya, aku baru sadar dengan ketidak pekaanku dengan rindunya, aku menyesalinya setelah dia sudah tiada, aku menangis sepanjang jalan dengan mengingat kesalahanku, aku mengubah perjalananku aku tidak menuju kantorku, aku menuju sebuah makam yang coklat kehitaman, nisannya masih baru…yahh istriku meninggal 1 minggu yang lalu karna penyakit yang ia pendam selama ini. Aku tersungkur dengan tangisan yang pecah, penyesalan tak berguna lagi, kini ia tiada tapi kerinduanku akan abadi untuknya, inilah kerinduan yang selama ini ia pendam selama kita nikah dulu, kami cuma ketemu ketika malam, tak ada waktu panjang yang kita gunakan untuk bersama, jikalaupun hari libur aku terpaksa mengikuti keinginannya untuk keluar dulu, sedih ini tak tertahankan lagi, kenangan yang susah untuk kulupakan ketika engkau harus nangis disaat aku jauh darimu, engkau rindu kepadaku padahal aku tidak pernah menghiraukan kerinduamu dulu, aku sangat menyesal dengan ketololanku dulu, aku minta maaf sebesarnya istriku tercinta, mungkin inilah rindu yang engkau rasakan dulu akupun merasakannya sekarang, aku lebih sakit sayang karna saya merindukan seseorang yang telah tiada, aku minta maaf sayang untuk semuanya, aku minta maaf sayang  .

seketika akupun terbangun di shubuh itu, ternyata aku hanya bermimpi, aku terdiam dengan dengan mimpiku tadi, aku menoleh ke kiri istriku yang masih terlelap dengan tidurnya, iya aku hanya mimpi, akupun membangunkan istriku yang masih ngantuk

“ibu saya minta maaf yah kalo selama ini aku jarang menemani ibu di rumah”

“kok ayah bilang gitu??istriku menyahut

“tidak bu…ayah banyak kesalahan sama ibu, ayah sayang ibu”

Ia pun memelukku dan membisikkan sesuatu

“ayah jangan khawatir, ibu tidak pernah marah kok, ibu masih setia menunggu ayah pulang”

Akupun menangis penuh penyesalan mendengar kata dari istriku, dan ia pun membisikku lagi

“ayah tidak pulang, tidak apa-apa kok, aku sudah ditemani selingkuhan ibu”

Dengan perasaan yang bahagia akupun memutilasinya dengan sadis -the end-
Makepunk (Pakar hal yang tidak penting) sekarang sibuk mengurus urusan yang tidak penting serta mengurus kecoa di wc yang sering menjadikan wc rumah sebagai kumpul kebo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s