Menulis untuk apa?

 

Tips-menulis1

Tulisan ini diawali dengan membedakan sejarah dan masa lalu, menurut stzomka sejarah adalah masa lalu yang dituliskan serta masa lalu yang mempunyai bukti autentik yang bisa kita buktikan keasliannya, apakah itu terdapat dalam kitab,surat, tulisan maupun prasasti. Sedangkan masa lalu adalah hal yang telah dilewati namun tak dituliskan untuk keperluan masa depan.

Kita bisa mengetahui bagaimana seorang Attila menghancurkan tembok besar cina, bagaimana napoleon menjadi kaisar di prancis, serta melihat colombus yang sok tahu menemukan benua amerika yang dikiranya kerajaan india. Kesemuanya itu dapat kita tahu dan pelajari karena masa lalu tersebut dituliskan oleh pujangga maupun cendikiawan di masa lalu. Dan Kalau mengutip pernyataan dari Pram “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Sangat jelas sekali bahwa apa yang kita ketahui sekarang ini adalah hasil dari proses menulis, saya tak bisa membayangkan jika dulunya kitab kitab suci tak dituliskan,apakah ummat beragama masih ada sampai sekarang? Apakah mereka masih mempercayai Tuhan Yang Maha Esa?

Tulisan ini lahir karena tulisan juga, mungkin lucu kedengarannya namun iya tulisan ini hadir untuk mengkritisi beberapa tulisan yang hadir di sepanjang pengamatan saya pribadi. Beberapa tulisan yang saya baca terkesan nihil dan tak punya tujuan, tulisan tulisan tersebut hanya menjadi karnaval metapora yang memuakkan, hanya menjadi keluh kesah dan tak punya tujuan. Sering saya membaca tulisan yang membutuhkan Kamus Ilmiah padahal hal yang ia ingin sampaikan bisa menggunakan bahasa umum namun yahh untuk terlihat keren dan ilmiah “CITRA” itu perlu walaupun penanaman pemahaman menemukan jalan buntu bagi beberapa pihak.

Walaupun saya bukan anak sastra, saya punya kehendak sendiri untuk melihat tulisan tulisan yang hadir di sekeliling kita mempunyai tujuan yang lebih jelas. Tak bisa dipungkiri setiap tulisan tentunya mempunyai sebuah tujuan namun sering kali tujuan tersebut berakhir dengan Hal yang IDEAL bagi si penulis tersebut. Sebagai contoh kita bisa melihat buku buku yang menjelaskan tentang anda harus semangat kerja, menghormati bos, walaupun di dalam hati kita sendiri hal itu sangat memuakkan. Atau kita seringkali melihat tulisan tentang seorang manusia yang sudah putus asa dan membiarkan dirinya mati untuk menghindari masalahnya sendiri.

Sangat Terlihat kontras jika kita melihat ke masa lalu ketika Tan Malaka yang jomblo itu menulis sebuah Buku (MADILOG) yang bertujuan menanamkan pengetahuan bagi sebangsanya sendiri . Bukan dengan menulis sebuah buku tentang kesabaran kita menghadapi Belanda, toh nanti di akhirat di balas juga perbuatan si Belanda tersebut. Atau membaca Novel Pram yang “licik”seperti Tetralogi Buru, diawal Novel kita dicangkokkan kisah cinta Mingke dan Annnelis yang romantik itu namun di Novel kedua,ketiga dan Keempat kita harus berurusan dengan sejarah Organiasi di Bumi Indonesia ini. Menurutku sih Pram termasuk Licik, dengan melihat mental orang indonesia yang sangat suka jika membahas hal-hal yang berbau CINTA , ia memanfaatkan mental orang indonesia tersebut dan menggiringnya ke zaman pra kemerdekaan indonesia.

Dan bila kita kembali lagi ke masa sekarang, hal tersebut semakin kontras. Buku buku yang Bestseller hanya buku buku tentang cinta dan liku likunya. Buku-buku sekarang hanya menjadikan pembaca sebagai kelinci percobaan, menjadikan pembacanya orang yang lemah, mencankkokan KEGALAUAN di dalam hidupnya yang sudah suram. Saya sangat percaya kekuatan sebuah tulisan, jika anda terbiasa membaca tulisan tulisan yang berbau Marxist semangat anda akan menggebu-gebu atau membaca tulisan Pidi baiq akan menjadikan anda senang dengan kegilaannya serta membaca novel novel conan seperti Sherlock Holmes akan menjadikan anda penuh dengan Intelenjensia yang kuat. Hal yang sama pun jika anda membaca tulisan tulisan yang membuat anda sedih, menjadi lemah dan tak berdaya. Hal tersebut sangat memuakkan bagi saya, dan yang menjadi persoalannya adalah Buku Buku yang beredar dipenuhi dengan dusta si penulis yang membuat orang-orang menjadi lemah dan rapuh.

Kembali pada judul diatas “Menulis untuk apa?” , apakah selama ini anda sudah menulis untuk tujuan yang lebih baik? Hanya menjadikan pembaca anda sebagai pribadi yang ketokohan, pribadi yang menghamba pada tulisan anda, menjadikan mereka sebagai orang yang tidak bebas memilih dan menjadikan mereka pribadi seperti botol kosong? Jika IYA ! teruskan kesalahan anda atau merubahnya sekarang juga.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s