Buku dan Ruangnya

bukuuuPernah dulu sekali, duluuuuu sekali…. saya sering menganggap orang yang baca buku di tempat ramai adalah bentuk pencitraan. Belum ketika mereka membeli buku dan di upload lewat media sosialnya atau mereka yang suka mengutip isi buku dan membuatnya sebagai status sosial media. Menurutku (dulu) semua hal itu hanyalah sebuah bentuk pencitraan, hanya kelakukan manusia yang menujukkan eksistensinya. Tetapi akhir-akhir ini saya baru menyadari, kelakuan seperti itu bukanlah kesalahan melainkan sebuah peluang!.
Beberapa saat yang lalu saya sering memikirkan ruang yang tepat untuk membaca buku karena dengan memilih ruang yang nyaman tentunya akan memaksimalkan pikiran kita untuk menyerap isi dari jendela dunia tersebut tapi apakah betul buku punya ruangnya sendiri? Ruang yang bersih, tidak bising, adem, atau tempat yang tak bakalan ada orang menggangu! Bila saya menghubungkan pertanyaan ini dengan disiplin ilmu yang saya geluti, hal ini mirip-mirip dengan fungsionalisme struktural(silahkan anda cari sendiri apa itu fungsional struktural), kita selalu terjebak dimana segala sesuatunya punya fungsi dan peran masing-masing begitupun dengan ruang yang ideal untuk membaca buku.
Mungkin beberapa dari kita akan merasa tidak nyaman jika membaca buku di trotoar, di bus, atau tempat yang sedang banyak manusianya. Walaupun hal itu tidak berlaku untuk semua orang karena setiap individu tentunya punya zona nyamannya masing-masing. Nah disinilah kita terjebak dengan pandangan tentang tempat seharusnya membaca buku, inilah mengapa dulunya saya sering melihat ada indikasi pencitraan bila melihat seseorang membaca buku di tempat yang bukan semestinya, padahal kalo kalian suka baca buku di tempat keramaian yah bukan masalah.

Jika diberi ilustrasi mungkin begini ceritanya, si rambo mempunyai kebiasaan membaca buku dikamarnya yang tenang, sampai suatu ketika ia melihat aoyama sedang membaca buku di trotoar jalan yang bising, rambo dalam hatinya pun mengatakan “dasar pencitraan, baca buku kok di tempat kayak begini, emangnya masuk yah ilmunya kalo ribut begini?”.

Kalian mungkin akan mendukung Rambo seperti ini “yah tentu salahlah kalo kita baca buku di tempat keramaian, jadinya kan tidak fokus”.
Benar ! mungkin akan susah untuk fokus tapi kan setiap manusia itu lahir dengan keadaan yang berbeda-beda, tentunya pula dengan daya fokus yang berbeda. Fokus setiap manusia juga tergantung dengan apa yang membuatnya nyaman begitupun membaca buku. Saya beri contoh seperti ini seorang pesepak bola akan susah untuk fokus jika diberi tugas sebagai eksekutor penambak jitu atau seorang penembak jitu yang telah terkenal fokusnya dipaksa memasak coto makassar, apakah ia bisa fokus? . Ingat disini saya tidak ingin mengatakan bahwa seorang pemain bola tdak bisa menjadi penembak jitu atau sebaliknya tapi disini saya ingin menegaskan bahwa setiap individu lebih fokus pada apa yang selama ini membuatnya nyaman untuk dikerja; begitupun dengan membaca buku, ada orang yang mempunyai tipikal susah fokus di keramaian ada pula yang bisa fokus sefokusnya. Akan keliru jadinya bila kita menyamakan diri kita dengan orang lain. Dikit-dikit liat orang baca buku dikira pencitraan.

Saya punya teman, ia punya kebiasaan membaca buku sambil mendengarkan lagu, menurutnya lagu yang ia dengar sering menjadi sountrack bagi bacaan yang ia baca..yahh mirip-miriplah dengan sountrack film menurutku. Pernah katanya ia baca buku Arok dedes sambil dengar lagunya Payung teduh, menurutnya nuansa kejawaan tempo dulu itu keluar saat ia menggambungkan kedua hal tersebut, ia merasa lebih menikmati hal tersebut walaupun tidak semua buku dan lagu itu nyambung katanya. Well kembali ke topic sebelumnya, setiap individu itu punya daya fokus yang berbeda dan akan keliru kiranya menyamakan diri kita dengan yang lain. Untuk itu ruang bagi seorang pembaca tidak harus menentu di tempat yang nyaman atau tidak bising menurut banyak orang tapi dimanapun menurut kalian senangi untuk membaca buku, tempat dimana kalian bisa merasa nyaman untuk hanyut dan tenggelam dalam isi cerita dari si penulis buku.

Mungkin wanita cantik disampingmu akan membisik seperti ini “ iya tak apa jika orang-orang baca buku dimanapun mereka inginkan tapi saya tak suka orang-orang yang suka upload buku yang ia beli atau foto ketika ia sedang membaca buku, menurutku itu sombong dan terlalu ingin dibilangi pintar

Iya ! banyak hal kita jumpai seperti itu, ketika mereka membeli buku dan menguplodnya atau ketika mereka lagi berfose seakan-akan lagi membaca buku, hal demikian lumrah di berbagai kalangan tapi hal itu kurasa masih kurang jika dibandingkan orang-orang yang sering share katakan “Amin”, foto makanan, foto ulang tahun di hotel, foto dia diendorse atau foto ia telah dikirimi barang dari Online shop. Kita perlu mengisi ruang itu, ruang yang telah diisi banyak hal yang memuakkan bagi saya pribadi(jangan terpengaruh yah). Kupikir tak apa jika kebanyakan dari kalian mengatakan upload foto buku itu terkesan ingin dibilangi pintar, kalian bebas berpendapat begitupun saya, hanya saja bila kita melihat kembali kurangnya minat baca masyarakat, apakah pantas kita melarang orang-orang mengupload hal demikian?.

Seringkali teman (yang duluan kuliah daripada saya) mengutarakan kesedihannya, di masanya dulu kampus katanya sering dihuni oleh pembaca buku, sudut-sudut kampus sering diisi sebagian mahasiswa yang sedang membaca buku dan berdiskusi tapi kenyataan sekarang kalian akan jarang melihat hal demikian, dimasa serkarang sudut sudut kampus telah diisi oleh mahasiswa yang berdiskusi tentang tren alis terbaru, diskusi tempat pembelian cream racikan yang baru atau diskusi tentang adek andalan yang cantik dan jadi primadona baru. Menurutku hal ini sah-sah saja kita bebas melakukan apa yang kita sukai, temanku saja yang belum bisa menerima kampus dijadikan tempat diskusi produk kosmetik yang bagus dipakai. Inilah yang menjadi masalah sebenarnya jika kita hubungkan dengan masalah tentang “ingin terlihat pintar” dengan masalah teman saya. Dengan minimnya minat baca mahasiswa saja telah di labeli sebagai sikap yang sok pintar bagaimana pula masa depan literasi yang ada, seharusnya kita mendukung hal tersebut. Kita harus mengisi ruang ruang yang ada di dunia sosial media, kita juga harus memenuhi isi beranda FB mereka dengan citra membaca buku; Dan tak mengapa jika mereka mencitrakan kalian sok pintar, toh setiap hal tentang buku yang kalian sebar ke jagad dunia maya akan berpengaruh sedikit demi sedikit, agar semua orang bisa menemukan pilhan-pilihan lain selain hal hal viral yang sering nyeleneh(om-toleta-om) seperti membaca Buku.

Nah Temanmu yang ganteng dengan kumisnya yang seksi mungkin berpendapat bebini kepada saya “oke saya terima bila tak ada ruang yang paten untuk membaca buku dan saya sudah menerima bila banyak orang yang sering menguplod foto sambil baca buku atau yang baru beli buku tapi saya tidak senang dengan orang-orang yang sering posting quote dari sebuah buku, kemungkinan ia hanya copy paste dari website atau mungkin dari bukunya sendiri tapi jarang dan bahkan tak pernah ia baca”

Yah itu sering terpikirkan oleh saya, bermunculannya quote seperti Tere Liye, Zainuddin dan hayati serta yang lainnya di beranda Fb ataupun dibeberapa sosial media saya. Kupikir itu hal yang wajar walaupun sebelumnya saya tidak menyukainya. Beberapa Quote sering di upload karena menurut si pembaca terdapat hal yang menarik dari quote tersebut, apakah itu sesuai dengan perasaannya, kehidupannya, percintaannya ataupun sesuai dengan ideologinya. Kalaupun si pengupload tidak membaca bukunya toh ada baiknya juga, bisa saja quote yang diposting membuat orang-orang tertarik membaca buku yang sebelumnya di share. Sebenarnya masalah ini sama dengan permasalahan sebelumnya, dengan minimnya minat baca kita mengapa kita harus menekan segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran literasi. Kalaupun saya dan kalian tak suka beberapa quote tersebut keliru kiranya bila kita melarang mengekspresikan perasaan seseorang lewat quote, hal yang menurutku lebih baik adalah memosting juga quote yang menurutmu baik daripada menekan penyebaran minat baca masyarakat. saya tak usah menyertakan data statistik tingkat minat masyarakat membaca buku, kalian bisa melihat sendiri realitas yang ada dan masihkah anda ingin melarang lagi?
Teman yang dibelakangmu mungkin sudah gatal ingin menyatakan sesuatu kepada saya seperti ini ”okey saya tak terlalu mementikan apa yang telah anda jelaskan, hanya saja saya sering merasa ketakutan bila ingin membeli buku dan meminjamkannya, seringkali saya melihat orang-orang kehilangan bukunya karena dipinjamkan ke teman dan tak pernah kembali-kembali, menurutku itu tak pantas

Haha iya saya mengerti perasaan anda, hal demikian sering dirasakan beberapa teman yang bukunya hilang entah kemana, menurut temanku benci, kecewa, emosi bercampur menjadi satu, dan saya sependapat dengan pernyataan anda “HAL ITU MEMANG TIDAK PANTAS”

.Teman anda (saya curiga ia salah satu orang yang suka meminjam dan tak pernah mengembalikkannya) yang satunya mungkin menyahut “apakah kita harus membencinya ? kan hal demikian bisa menjadi salah satu metode penyebaran ilmu pengetahuan bagi si peminjam”

Saya paham maksud anda, saya sangat sepakat dalam konteks penyebaran ilmu pengetahuan tapi apakah dengan meminjam buku dan tak pernah mengembalikannya adalah perbuatan yang baik? mengapa saya mengatakan seperti itu karena dengan tidak mengembalikkanya mereka telah memutus rantai penyebaran literasi. Dengan memiliki penuh buku yang anda pinjam akan berdampak pada pola peminjaman buku yang anda. Saya beri contoh begini, Totti meminjamkan buku kepada batistuta tapi batistuta tak pernah mengembalikan buku tersebut akhirnya totti pun kecewa, selang beberapa hari sanji datang dan ingin meminjam buku juga, tapi totti menolak karena takut bukunya hilang kembali, dengan penuh kecewa sanji pun pulang kerumahnya, sesampainya di sana ia bertemu dengan bonano , bonano ingin meminjam bukunya sanji namun sanji kembali mengingat perkataan si totti tadi akhirnya sanji tak meminjamkan bukunya karena takut kehilangan juga. Contoh ringkasnya mungkin seperti itu, terdapat mata rantai yang putus jika salah satu membuat kesalahan dengan tak mengembalikanya kembali.

Pria kacamata disampingmu yang dari tadi ikut diskusi mungkin akan bertanya seperti ini “jadi yang baik untuk penyebaran pengetahuan melalui buku menurutmu bagaimana ?”

Ini menurut saya loh, anda bisa sepakat ataupun tidak. Menurutku sebaiknya buku itu mengalir seperti air masuk kesela-sela batu tuk sementara dan keluar lagi menuju lubang yang baru, maksudnya buku seharusnya terus terbang ke setiap pembacanya, dari satu kepala ke isi kepala yang lainnya hanyut bak air yang menawan bukan hanyut disatu sungai kecil yang tak bermuara pada laut, karena lama kelamaan sungai itu akan kering, semakin lama semakin sedikit aliran airnya dan akhirnya sungai itu menjadi tanah lapang yang tak tersisa dari kehidupan indah sebelumnya. Bukupun akan mengalami hal yang sama bila satu orang tak mengembalikkan kembali buku yang ia pinjam, buku itu hanya akan menjadi milik dari orang yang meminjam tadi dan tak pernah sampai pada kepala yang ingin membacanya.

Bapak tua yang daritadi ikut nimbrung mungkin bertanya begini kepada saya “jika saya meminjam buku dan tak mengembalikannya, apakah dengan meminjamkannya kembali di beberapa orang hal itu sudah menutupi kesalahan saya?

Karena anda bertanya kepada saya, saya akan menjawab TIDAK, kesalahanmu tetap tak tergantikan, menurutku lebih baik jika kau mengembalikan buku yang kau pinjam dan menyarankan temanmu untuk meminjam kembali pada orang yang sebelumnya engkau pinjami bukunya. Kalau menurutmu pernyataanku membingungkan, saya akan kembali memberi Ilustrasi seperti ini, dawkins meminjamkan bukunya kepada pikolo, hampir satu bulan pikolo tak pernah mengembalikannya karena ia ingin memilikinya, akhirnya picolo berniat meminjamkan buku tersebut kepada jared dengan alasan penyebaran ilmu pengetahuan tapi ia berdiskusi dulu dengan greg graffin terkait tujuan mulianya, greg tak menyetujui rencanya, menurut greg lebih baik jika picolo mengembalikan buku tersebut dan menyarankan jared untuk meminjam kembali kepada dawkins karena hal yang dilakukan picolo tetap menjadi contoh yang keliru bagi orang banyak.

Saya sepakat dengan pendapat greg, sebaiknya sih begitu karena orang-orang yang kehilangan bukunya seperti Dawkins akan tetap kecewa bukunya tidak kembali dan mungkin akan mempengaruhi dawkins untuk meminjamkan kembali bukunya kepada orang banyak. Kupikir dawkins dan kalian bukan sosok yang pelit dalam meminjamkan bukunya hanya saja jika kalian menerima perlakuan yang sama yang diberikan oleh picolo, kalian akan menjadi sedikit pelit untuk banyak orang.

Nah Setelah berdiskusi tentang Buku panjang lebar, sepertinya kalian kelihatan lelah, karena telah lelah ayo kita beristirahat dulu sejenak. Namun sebelum istrihat saya akan kembali menyimpulkan beberapa yang telah saya bahas sebelumnya.

Yang pertama Buku itu tak punya ruang yang paten dan ideal, ia bisa dinikmati dimana saja dan kapan saja. Yang kedua tak menjadi masalah bila seseorang sering mengshare fotonya sehabis membeli buku atau fotonya yang sambil membaca buku, toh masyarakat kita lagi minim minat bacanya; Begitupun dengan orang-orang yang rajin copy paste quote dari buku menurutku ini hal yang baik, ini semacam bentuk promosi untuk menarik minat orang banyak untuk tidak buta literasi dan rajin untuk membaca. Yang ketiga jangan suka menyimpan buku orang di rumahmu, banyak efek dari kelakuanmu yang seperti itu , misalnya seseorang kembali membeli buku yang sama karena telah hilang sebelumnya padahal jika tidak hilang ia bisa membeli buku lain untuk disebarluaskan.

Karena kalian semakin letih kulihat, sebagai penutup semoga quote ini bisa menemani mimpi basahmu bersama banyaknya imajinasi yang ada di dalam isi kepalamu.

“Belajar adalah cara terbaik untuk mengetahui bahwa kau belum tau apa-apa”
~SALAMOLAHRAGA~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s